BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berdasarkan perkembangan sejarah
filsafat naturalisme merupakan aliran yang tertua sedangkan pragmatisme adalah
yang paling muda, namun di samping itu sangat penting diketahui adanya
aliran-aliran lain di sela-sela antara naturalisme dengan pragmatisme.
Pragmasis dipandang sebagai aliran
filsafat modern yang lahir di Amerika akhir abad 19 hingga awal abad 20. Namun
sebenarnya berpangkal pada filsafat empiris Inggris, yang berpendapat bahwa
manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami. Filsafat ini cenderung
mengabaikan hal-hal yang bersifat metafisik tradisional dan terarah pada
hal-hal yang pragmatis kehidupan. Pragmatisme lahir di tengah-tengah situasi
sosial Amerika yang dilanda berbagai problema terkait dengan kuat dan masuknya
urbanisasi dan industrialisasi. Berakhirnya perang dunia I dengan korban
sekitar 8,4 juta jiwa secara tidak langsung telah melahirkan dampak psikologis
yang begitu meluas dan memicu terjadi berbagai perubahan-perubahan bangsa,
khususnya filusuf di dalam menyadari hidup dan kehidupannya. Eropa abad
pertengahan kehilangan utopia hidupnya mulai dari moralitas serta spritual.
Atas nama nasionalisme dan demi mengejar keuntungan-keuntungan serta kebanggaan
semu, dunia yang selama ini beradab telah membuktikan diri hadir menjadi dunia
yang sepenuhnya irasional, horor dan buta terhadap gagasan-gagasan nilai yang
dibangunnya.
Dalam perkembangannya, pragmatisme akan
mempengaruhi teori-teori pendidikan yang lahir setelahnya, mulai dari
progresivisme, rekonstruksionisme, futurisme serta humanisme pendidikan, namun
diantara aliran-aliran itu terdapat dua aliran pendidikan yaitu progresivisme
dan humanisme, di mana pengaruh pragmatisme sangat kuat di dalam’y.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah
yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengertian pragmatisme?
2. Siapa tokoh-tokoh pragmatisme?
3. Bagaimana pandangan pragmatisme
dalam pendidikan?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan permasalahan di atas,
tujuan yang ingin dicapai dari penulisan ini adalah :
1. Mengetahui pengertian filsafat
pendidikan pragmatisme.
2. Mengetahui tokoh-tokoh filsafat
pendidikan pragmatisme.
3. Mengetahui pandangan pragmatisme dalam pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
PANDANGAN PRAGMATISME DALAM PENDIDIKAN
A. Aliran Pragmatisme
Istilah Pragmatisme berasal dari kata
Yunani pragma yang berarti perbuatan (action) atau tindakan (practice). Isme di
sini sama artinya dengan isme-isme lainnya, yaitu berarti aliran atau ajaran
atau paham. Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yang menekankan
bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Pragmatisme memandang bahwa kriteria
kebenaran ajaran adalah “faedah” atau “manfaat”. Suatu teori atau hipotesis
dianggap oleh Pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. Dengan kata lain,
suatu teori itu benar kalau berfungsi (if it works). Dengan demikian
Pragmatisme dapat dikategorikan ke dalam pembahasan mengenai teori kebenaran
(theory of truth), sebagaimana yang nampak menonjol dalam pandangan William
James, terutama dalam bukunya The Meaning of The Truth (1909).
Pragmatisme adalah aliran filsafat yang
mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya
sebagai benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat
secara praktis. Dengan demikian, bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang
penting melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada
individu-individu.
Dasar dari pragmatisme adalah logika pengamatan, di mana apa yang ditampilkan pada manusia dalam dunia
nyata merupakan fakta-fakta individual, konkret, dan terpisah satu sama lain.
Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima begitu saja. Representasi
realitas yang muncul di pikiran manusia selalu bersifat pribadi dan bukan
merupakan fakta-fakta umum. Ide menjadi benar ketika memiliki fungsi pelayanan
dan kegunaan. Dengan demikian, filsafat pragmatisme tidak mau direpotkan dengan
pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran, terlebih yang bersifat metafisik, sebagaimana
yang dilakukan oleh kebanyakan filsafat Barat di dalam sejarah[1].
B. Tokoh-Tokoh Pragmatisme
Pragmatisme mula-mula diperkenalkan oleh
Charles Sanders Peirce (1839-1914), filosof Amerika yang yang pertama kali
menggunakan pragmatisme sebagai metode filsafat, tetapi pengertian pragmatisme
telah terdapat juga pada Socrates, Aristoteles, Barkeley, dan Hume. Untuk
mengetahui lebih jauh ajaran pragmatisme alangka baiknya kita mempelajari
tokoh-tokoh yang menpopulerkan dan pandangannya :
1.
C.S. Peirce (1839-1914).
Secara umum orang memakai istilah pragmatisme
sebagai ajaran yang mengatakan bahwa suatu teori itu benar sejauh sesuatu mampu
dihasilkan oleh teori tersebut. Misalnya sesuatu itu dikatakan berarti atau
benar bila berguna bagi masyarakat. Pragmatisme Peirce yang kemudian hari ia
namakan pragmatisme lebih merupakan suatu teori mengenai arti (Theory of
Meaning) daripada teori tentang kebenaran (Theory of Truth). Menurut Peirce
kebenaran itu ada bermacam-macam. la sendiri membedakan kemajemukan kebenaran
itu sebagai berikut :
a. Aranscendental truth yang diartikan sebagai
letak kebenaran suatu hal itu bermukim pada kedudukan benda itu sebagai benda
itu sendiri. Singkatnya letak kebenaran suatu hal adalah pada "things as
things.
b. Complex truth yang berarti kebenaran dari
pernyataan-pernyataan. Kebenaran kompleks ini dibagi dalam dua hal yaitu
kebenaran etis disatu pihak dan kebenaran logis dilain pihak.
c. Yaitu ide tentang kaitan salah satu bentuk
pasti dari obyek yang diamati oleh penilik. Peirce menamai ide ini ide
ketigaan. Secara praktis, kekhasan pragmatisme Peirce merupakan suatu metode
untuk memastikan arti ide-ide di atas[2].
2. 1. William James (1842-1910 M)
William James lahir di New York pada tahun 1842
M, anak Henry James, Sr. ayahnya adalah orang yang terkenal, berkebudayaan
tinggi, pemikir yang kreatif. Selain kaya, keluarganya memang dibekali dengan
kemampuan intelektual yang tinggi. Keluarganya juga menerapkan humanisme dalam
kehidupan serta mengembangkannya. Ayah James rajin mempelajari manusia dan
agama. Pokoknya, kehidupan James penuh dengan masa belajar yang dibarengi
dengan usaha kreatif untyuk menjawab berbagai masalah yang berkenaan dengan
kehidupan.
Karya-karyanya antara lain, Tha Principles of
Psychology (1890), Thee Will to Believe (1897), The Varietes of Religious
Experience (1902) dan Pragmatism (1907). Di dalam bukunya The Meaning of Truth,
Arti Kebenaran, James mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang
berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri dan terlepas dari
segala akal yang mengenal. Sebab pengalaman kita berjalan terus dan segala yang
kita anggap benar dalam pengembangan itu senantiasa berubah, karena di dalam
prakteknya apa yang kita anggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya.
Oleh karena itu, tidak ada kebenaran mutlak, yang ada adalah
kebenaran-kebenaran (artinya, dalam bentuk jamak) yaitu apa yang benar dalam
pengalaman-pengalaman khusus yang setiap kali dapat diubah oleh poengalaman
berikutnya.
Nilai pengalaman dalam pragmatisme tergantung
pada akibatnya, kepada kerjanya artinya tergantung keberhasilan dari perbuatan
yang disiapkan oleh pertimbangan itu. Pertimbangan itu benar jikalau bermanfaat
bagi pelakunya, jika memperkaya hidup serta kemungkinan-kemungkinan hidup. Di
dalam bukunya, The Varietes of Religious Experience atau keanekaragaman
pengalaman keagamaan, James mengemukakan bahwa gejala keagamaan itu berasal
dari kebutuhan-kebutuhan perorangan yang tidak disadari, yang mengungkapkan
diri di dalam kesadaran dengan cara yang berlainan.
Barangkali di dalam bawah sadar kita, kita
menjumpai suatu relitas cosmis yang lebih tinggi tetapi hanya sebuah
kemungkinan saja. Sebab tiada sesuatu yang dapat meneguhkan hal itu secara
mutlak. Bagi orang perorangan, kepercayaan terhadap suatu realitas cosmis yang
lebih tinggi merupakan nilai subjektif yang relatif, sepanjang kepercayaan itu
memberikan kepercayaan penghiburan rohani, penguatan keberanian hidup, perasaan
damain keamanan dan kasih kepada sesama dan lain-lain[3].
3. 2. John Dewey (1859-1952)
Kekhususan filsafatnya terutama berdasarkan
pada prinsip "naturalisme empiris atau empirisme naturalis". Istilah
"naturalisme" ia terangkan sebagai pertama-tama bagi Dewey akal budi
bukanlah satu-satunya pemerosesan istimewa dari realitas obyektip secara
metafisis. Pokoknya Dewey menolak untuk merumuskan realitas berdasar pada
pangkalan perbedaan antara subyek yang memandang obyek.
C. Pandangan Pragmatisme dalam Pendidikan
Sejak dahulu hingga dewasa ini, dunia
pendidikan selalu membuka diri terhadap kemungkinan diterapkannya suatu format
pendidikan yang ideal untuk menjawab permasalahan global. Banyak teori telah
diadopsi untuk mencapai tujuan tersebut. Termasuk teori pragmatis dari aliran
Filsapat pragmatisme mencoba mengisi ruang dan waktu untuk turut mencari solusi
terbaik terhadap model pendidikan yang dianggap selangkah ketinggalan dengan
perkembangan pola pikir manusia itu sendiri.
Seiring dengan perkembangan, dunia pendidikan
berupaya menyelaraskan antara eksplorasi pikiran manusia dengan solusi tindakan
bersama perangkatnya untuk mencapai puncak temuan. Seperti yang diketetahui bahwa pragmatisme merupakan paham yang
memberlakukan hal secara praktis[5].
Pandangan pragmanisme
dalam pendidikan menurut jhon Dewey meliputi:
- 1. Hakikat pendidikan
Hakikat
pendidikan menurut pragmatisme adalah menyiapkan anak didik dengan membekali
seperangkat keahlian dan keterampilan teknis agar mampu hidup di dunia yang
selalu berubah. Konsep pendidikan Dewey yang berlandaskan pragmatisme, menilai
suatu pengetahuan berdasarkan guna pengetahuan dalam masyarakat. Yang diajarkan
adalah pengetahuan yang segera dapat dipakai dalam penghidupan masyarakat
sehari-hari[6].
Artinya pragmatisme
memandang bahwa pendidikan yang diselenggarakan berpusat pada peserta didik
yang sesuai dengan minat serta kebutuhan-kebutuhannya agar mampu mengatasi
persoalan hidup secara praktis.
- 2. Tujuan pendidikan
Tujuan
pendidikan dalam pandangan ragmatisme tentunya harus searah dengan konsep
filosofis pragmatis. Seperti mengenai realitas, pengetahuan dan kebenaran,
serta nilai.
Dengan berpijak
pada konsep di atas, objektivitas tujuan pendidikan harus diambil dari
masyarakat dimana si anak hidup, dimana pendidikan berlangsung, karena
pendidikan berlangsung dalam kehidupan. Tujuan pendidikan tidak berada di luar
kehidupan, melainkan di dalam kehidupan sendiri. Sesuai dengan prinsip
pragmatisme bahwa tidak ada kebenaran mutlak dan esensi realitas adalah
perubahan, maka dalam hal pendidikan ini tidak ada tujuan umum yang berlaku
universal dan pasti. Artinya, tujuan pendidikan harus dihasilkan dari situasi
kehidupan di sekeliling anak dan pendidik[7].
Hal ini
berarti, tujuan pendidikan dalam persfektif pragmatisme adalah untuk menyiapkan
peserta didik menghadapi kehidupan dalam masyarakatnya yang bersifat praktis.
Setiap satuan sosial yang menjalani pendidikan bisa saja memiliki tujuan khusus
yang berbeda berdasarkan karakteristik dan kebutuhan masyarakat local.
- 3. Kurikulum dan proses pendidikan
Pengembangan
kurikulum dalam pragmatisme tentunya sejalan dengan hakikat dan tujuan
pendidikan itu itu.
Dewey memandang
bahwa tipe pragmatisnya diasumsikan sebagai sesuatu yang mempunyai jangkauan
aplikatif dalam masyarakat. Pendidikan dipandang sebagai wahana yang strategis
dan sentral dalam upaya kelangsungan hidup di masa depan. Ia juga mengkritik model
pendidikan Amerika yang hanya mengajarkan muatan-muatan usang yang hanya
mengulang-ulang masa lampau dan sebenarnya tidak pantas lagi disampaikan pada
peserta didik. Pendidikan harus membekali peserta didik sesuai dengan kebutuhan
yang ada pada lingkungannya[8].
Tidak ada suatu materi pelajaran tertentu yang bersifat universal dalam
sistem dan metode pelajaran yang selalu tepat untuk semua jenjang sekolah.
Sebab, seperti pengalaman, kebutuhan serta minat individu atau masyarakat
berbeda menurut tempat dan zaman. Dalam hal ini, kurikulum juga harus bersifat
elastis dan fleksibel sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat.
Kemudian, muatan kurikulum harus meliputi perkembangan minat, pikir, dan
kemampuan praktis[9].
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil diskusi yang telah dilakukan,
kami dapat mengambil beberapa kesimpulan, yaitu :
1.
Pragmatisme berasal dari kata pragma (bahasa
Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan. Pragmatisme adalah suatu aliran yang
mengajarkan bahwa yang benar apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan
perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis.
2.
Filosuf yang
terkenal sebagai tokoh filsafat pragmatisme adalah William James dan John
Dewey. Mereka berdualah yang paling bertanggung jawab terhadap generasi Amerika
sekarang, karena di Amerika Serikat pragmatisme mendapat tempat tersendiri
dengan melekatnya nama William James sebagai tokohnya, disamping John Dewey.
3.
Pandangan pragmatism dalam pendidikan yang
meliputi
a.
Hakikat pendidikan
b.
Tujuan pendidikan
c.
Kurikulum dan proses pendidikan
B. Saran
Berdasarkan beberapa pemaparan yang telah penulis sampaikan di atas,
diharapkan pembaca dapat lebih memahami tentang filsafat, terutama mengenai
aliran pragmatisme. Sehingga, pembaca dapat mengambil hal-hal posotif darinya. Dalam penulisan tugas ini penulis
merasa banyak kekurangan baik dari isi tugas ini maupun cara penulisannya.
Untuk itu penulis minta ada kritikan dan saran dari para pembaca semuanya.
DAFTAR PUSTAKA
http://kristianawidi.blogspot.com/2012/02/makalah-pragmatisme.html
Burhanuddin Salam, Logika
Materil: Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997)
Peter Salim , The
Contemporary English-Indonesian Dictionary, (Jakarta: Modern English, 2002)
Ali Maksum dan Luluk Yunan Ruhendi, Paradigma
Pendidikan Universal di Era Modern dan Post Modern: Mencari “Visi Baru” atas
“Realitas Baru” Pendidikan Kita, (Yogyakarta: Ircisod, 2004)
Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2007)
[1]
http://kristianawidi.blogspot.com/2012/02/makalah-pragmatisme.html
[2] Burhanuddin
Salam, Logika Materil: Filsafat Ilmu
Pengetahuan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hlm. 202
[3] Ibid ,
h. 203
[4] Ibid, h. 204
[5] Peter Salim , The Contemporary English-Indonesian
Dictionary, (Jakarta: Modern English, 2002), hlm. 1465.
[6] Ali Maksum dan Luluk Yunan Ruhendi, Paradigma
Pendidikan Universal di Era Modern dan Post Modern: Mencari “Visi Baru” atas
“Realitas Baru” Pendidikan Kita, (Yogyakarta: Ircisod, 2004), hlm.260
[8] Ali Maksum dan
Luluk Yunan Ruhendi, op.cit.,hlm. 261
[9] Ibid.,hlm. 263.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar