Selasa, 08 Desember 2015

makalah filsafat pendidikan tentang aliran pragmatisme

BAB I
PENDAHULUAN
                                                                         

A.    Latar Belakang

Berdasarkan perkembangan sejarah filsafat naturalisme merupakan aliran yang tertua sedangkan pragmatisme adalah yang paling muda, namun di samping itu sangat penting diketahui adanya aliran-aliran lain di sela-sela antara naturalisme dengan pragmatisme.

Pragmasis dipandang sebagai aliran filsafat modern yang lahir di Amerika akhir abad 19 hingga awal abad 20. Namun sebenarnya berpangkal pada filsafat empiris Inggris, yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami. Filsafat ini cenderung mengabaikan hal-hal yang bersifat metafisik tradisional dan terarah pada hal-hal yang pragmatis kehidupan. Pragmatisme lahir di tengah-tengah situasi sosial Amerika yang dilanda berbagai problema terkait dengan kuat dan masuknya urbanisasi dan industrialisasi. Berakhirnya perang dunia I dengan korban sekitar 8,4 juta jiwa secara tidak langsung telah melahirkan dampak psikologis yang begitu meluas dan memicu terjadi berbagai perubahan-perubahan bangsa, khususnya filusuf di dalam menyadari hidup dan kehidupannya. Eropa abad pertengahan kehilangan utopia hidupnya mulai dari moralitas serta spritual. Atas nama nasionalisme dan demi mengejar keuntungan-keuntungan serta kebanggaan semu, dunia yang selama ini beradab telah membuktikan diri hadir menjadi dunia yang sepenuhnya irasional, horor dan buta terhadap gagasan-gagasan nilai yang dibangunnya.

Dalam perkembangannya, pragmatisme akan mempengaruhi teori-teori pendidikan yang lahir setelahnya, mulai dari progresivisme, rekonstruksionisme, futurisme serta humanisme pendidikan, namun diantara aliran-aliran itu terdapat dua aliran pendidikan yaitu progresivisme dan humanisme, di mana pengaruh pragmatisme sangat kuat di dalam’y.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.    Bagaimana pengertian  pragmatisme?
2.    Siapa tokoh-tokoh  pragmatisme?
3.   Bagaimana pandangan pragmatisme dalam pendidikan?


C.    Tujuan Penulisan

Berdasarkan permasalahan di atas, tujuan yang ingin dicapai dari penulisan ini adalah :
1.    Mengetahui pengertian filsafat pendidikan pragmatisme.
2.    Mengetahui tokoh-tokoh filsafat pendidikan pragmatisme.
3.   Mengetahui pandangan pragmatisme dalam pendidikan.




BAB II
PEMBAHASAN
PANDANGAN PRAGMATISME DALAM PENDIDIKAN


A.     Aliran Pragmatisme


Istilah Pragmatisme  berasal dari kata Yunani pragma yang berarti perbuatan (action) atau tindakan (practice). Isme di sini sama artinya dengan isme-isme lainnya, yaitu berarti aliran atau ajaran atau paham. Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah “faedah” atau “manfaat”. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh Pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. Dengan kata lain, suatu teori itu benar kalau berfungsi (if it works). Dengan demikian Pragmatisme dapat dikategorikan ke dalam pembahasan mengenai teori kebenaran (theory of truth), sebagaimana yang nampak menonjol dalam pandangan William James, terutama dalam bukunya The Meaning of The Truth (1909).

Pragmatisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis. Dengan demikian, bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang penting melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada individu-individu.

Dasar dari pragmatisme adalah logika pengamatan, di mana apa yang ditampilkan pada manusia dalam dunia nyata merupakan fakta-fakta individual, konkret, dan terpisah satu sama lain. Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima begitu saja. Representasi realitas yang muncul di pikiran manusia selalu bersifat pribadi dan bukan merupakan fakta-fakta umum. Ide menjadi benar ketika memiliki fungsi pelayanan dan kegunaan. Dengan demikian, filsafat pragmatisme tidak mau direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran, terlebih yang bersifat metafisik, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan filsafat Barat di dalam sejarah[1].

B.     Tokoh-Tokoh Pragmatisme

Pragmatisme mula-mula diperkenalkan oleh Charles Sanders Peirce (1839-1914), filosof Amerika yang yang pertama kali menggunakan pragmatisme sebagai metode filsafat, tetapi pengertian pragmatisme telah terdapat juga pada Socrates, Aristoteles, Barkeley, dan Hume. Untuk mengetahui lebih jauh ajaran pragmatisme alangka baiknya kita mempelajari tokoh-tokoh yang menpopulerkan dan pandangannya :
1.      C.S. Peirce (1839-1914).

Secara umum orang memakai istilah pragmatisme sebagai ajaran yang mengatakan bahwa suatu teori itu benar sejauh sesuatu mampu dihasilkan oleh teori tersebut. Misalnya sesuatu itu dikatakan berarti atau benar bila berguna bagi masyarakat. Pragmatisme Peirce yang kemudian hari ia namakan pragmatisme lebih merupakan suatu teori mengenai arti (Theory of Meaning) daripada teori tentang kebenaran (Theory of Truth). Menurut Peirce kebenaran itu ada bermacam-macam. la sendiri membedakan kemajemukan kebenaran itu sebagai berikut :
a.  Aranscendental truth yang diartikan sebagai letak kebenaran suatu hal itu bermukim pada kedudukan benda itu sebagai benda itu sendiri. Singkatnya letak kebenaran suatu hal adalah pada "things as things.
b.     Complex truth yang berarti kebenaran dari pernyataan-pernyataan. Kebenaran kompleks ini dibagi dalam dua hal yaitu kebenaran etis disatu pihak dan kebenaran logis dilain pihak.
c.   Yaitu ide tentang kaitan salah satu bentuk pasti dari obyek yang diamati oleh penilik. Peirce menamai ide ini ide ketigaan. Secara praktis, kekhasan pragmatisme Peirce merupakan suatu metode untuk memastikan arti ide-ide di atas[2].

2.     1.         William James (1842-1910 M)
William James lahir di New York pada tahun 1842 M, anak Henry James, Sr. ayahnya adalah orang yang terkenal, berkebudayaan tinggi, pemikir yang kreatif. Selain kaya, keluarganya memang dibekali dengan kemampuan intelektual yang tinggi. Keluarganya juga menerapkan humanisme dalam kehidupan serta mengembangkannya. Ayah James rajin mempelajari manusia dan agama. Pokoknya, kehidupan James penuh dengan masa belajar yang dibarengi dengan usaha kreatif untyuk menjawab berbagai masalah yang berkenaan dengan kehidupan.

Karya-karyanya antara lain, Tha Principles of Psychology (1890), Thee Will to Believe (1897), The Varietes of Religious Experience (1902) dan Pragmatism (1907). Di dalam bukunya The Meaning of Truth, Arti Kebenaran, James mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri dan terlepas dari segala akal yang mengenal. Sebab pengalaman kita berjalan terus dan segala yang kita anggap benar dalam pengembangan itu senantiasa berubah, karena di dalam prakteknya apa yang kita anggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Oleh karena itu, tidak ada kebenaran mutlak, yang ada adalah kebenaran-kebenaran (artinya, dalam bentuk jamak) yaitu apa yang benar dalam pengalaman-pengalaman khusus yang setiap kali dapat diubah oleh poengalaman berikutnya.

Nilai pengalaman dalam pragmatisme tergantung pada akibatnya, kepada kerjanya artinya tergantung keberhasilan dari perbuatan yang disiapkan oleh pertimbangan itu. Pertimbangan itu benar jikalau bermanfaat bagi pelakunya, jika memperkaya hidup serta kemungkinan-kemungkinan hidup. Di dalam bukunya, The Varietes of Religious Experience atau keanekaragaman pengalaman keagamaan, James mengemukakan bahwa gejala keagamaan itu berasal dari kebutuhan-kebutuhan perorangan yang tidak disadari, yang mengungkapkan diri di dalam kesadaran dengan cara yang berlainan.

Barangkali di dalam bawah sadar kita, kita menjumpai suatu relitas cosmis yang lebih tinggi tetapi hanya sebuah kemungkinan saja. Sebab tiada sesuatu yang dapat meneguhkan hal itu secara mutlak. Bagi orang perorangan, kepercayaan terhadap suatu realitas cosmis yang lebih tinggi merupakan nilai subjektif yang relatif, sepanjang kepercayaan itu memberikan kepercayaan penghiburan rohani, penguatan keberanian hidup, perasaan damain keamanan dan kasih kepada sesama dan lain-lain[3].

3.      2.       John Dewey (1859-1952)
Kekhususan filsafatnya terutama berdasarkan pada prinsip "naturalisme empiris atau empirisme naturalis". Istilah "naturalisme" ia terangkan sebagai pertama-tama bagi Dewey akal budi bukanlah satu-satunya pemerosesan istimewa dari realitas obyektip secara metafisis. Pokoknya Dewey menolak untuk merumuskan realitas berdasar pada pangkalan perbedaan antara subyek yang memandang obyek.

James membawakan pragmatisme. Isme ini diturunkan kepada Dewey yang mempraktekkannya dalam pendidikan. Pendidikan menghasilkan orang Amerika sekarang. Dengan kata lain, orang yang paling bertanggung jawab terhadap generasi Amerika sekarang adalah William James dan John Dewey. Apa yang paling merusak dari filsafat mereka itu? Satu saja yang kita sebut: Pandangan bahwa tidak ada hukum moral umum, tidak ada kebenaran umum, semua kebenaran belum final. Ini berakibat subyektivisme, individualisme, dan dua ini saja sudah cukup untuk mengguncangkan kehidupan, mengancam kemanusiaan, bahkan manusianya itu sendiri[4].

C.    Pandangan Pragmatisme dalam Pendidikan

Sejak dahulu hingga dewasa ini, dunia pendidikan selalu membuka diri terhadap kemungkinan diterapkannya suatu format pendidikan yang ideal untuk menjawab permasalahan global. Banyak teori telah diadopsi untuk mencapai tujuan tersebut. Termasuk teori pragmatis dari aliran Filsapat pragmatisme mencoba mengisi ruang dan waktu untuk turut mencari solusi terbaik terhadap model pendidikan yang dianggap selangkah ketinggalan dengan perkembangan pola pikir manusia itu sendiri.

Seiring dengan perkembangan, dunia pendidikan berupaya menyelaraskan antara eksplorasi pikiran manusia dengan solusi tindakan bersama perangkatnya untuk mencapai puncak temuan. Seperti yang diketetahui bahwa pragmatisme merupakan paham yang memberlakukan hal secara praktis[5].

Pandangan pragmanisme dalam pendidikan menurut jhon Dewey meliputi:

  • 1.    Hakikat pendidikan

Hakikat pendidikan menurut pragmatisme adalah menyiapkan anak didik dengan membekali seperangkat keahlian dan keterampilan teknis agar mampu hidup di dunia yang selalu berubah. Konsep pendidikan Dewey yang berlandaskan pragmatisme, menilai suatu pengetahuan berdasarkan guna pengetahuan dalam masyarakat. Yang diajarkan adalah pengetahuan yang segera dapat dipakai dalam penghidupan masyarakat sehari-hari[6].

Artinya pragmatisme memandang bahwa pendidikan yang diselenggarakan berpusat pada peserta didik yang sesuai dengan minat serta kebutuhan-kebutuhannya agar mampu mengatasi persoalan hidup secara praktis.


  • 2.      Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan dalam pandangan ragmatisme tentunya harus searah dengan konsep filosofis pragmatis. Seperti mengenai realitas, pengetahuan dan kebenaran, serta nilai.

Dengan berpijak pada konsep di atas, objektivitas tujuan pendidikan harus diambil dari masyarakat dimana si anak hidup, dimana pendidikan berlangsung, karena pendidikan berlangsung dalam kehidupan. Tujuan pendidikan tidak berada di luar kehidupan, melainkan di dalam kehidupan sendiri. Sesuai dengan prinsip pragmatisme bahwa tidak ada kebenaran mutlak dan esensi realitas adalah perubahan, maka dalam hal pendidikan ini tidak ada tujuan umum yang berlaku universal dan pasti. Artinya, tujuan pendidikan harus dihasilkan dari situasi kehidupan di sekeliling anak dan pendidik[7].

Hal ini berarti, tujuan pendidikan dalam persfektif pragmatisme adalah untuk menyiapkan peserta didik menghadapi kehidupan dalam masyarakatnya yang bersifat praktis. Setiap satuan sosial yang menjalani pendidikan bisa saja memiliki tujuan khusus yang berbeda berdasarkan karakteristik dan kebutuhan masyarakat local.


  • 3.      Kurikulum dan proses pendidikan

Pengembangan kurikulum dalam pragmatisme tentunya sejalan dengan hakikat dan tujuan pendidikan itu itu.
Dewey memandang bahwa tipe pragmatisnya diasumsikan sebagai sesuatu yang mempunyai jangkauan aplikatif dalam masyarakat. Pendidikan dipandang sebagai wahana yang strategis dan sentral dalam upaya kelangsungan hidup di masa depan. Ia juga mengkritik model pendidikan Amerika yang hanya mengajarkan muatan-muatan usang yang hanya mengulang-ulang masa lampau dan sebenarnya tidak pantas lagi disampaikan pada peserta didik. Pendidikan harus membekali peserta didik sesuai dengan kebutuhan yang ada pada lingkungannya[8].

Tidak ada suatu materi pelajaran tertentu yang bersifat universal dalam sistem dan metode pelajaran yang selalu tepat untuk semua jenjang sekolah. Sebab, seperti pengalaman, kebutuhan serta minat individu atau masyarakat berbeda menurut tempat dan zaman. Dalam hal ini, kurikulum juga harus bersifat elastis dan fleksibel sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Kemudian, muatan kurikulum harus meliputi perkembangan minat, pikir, dan kemampuan praktis[9].


BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil diskusi yang telah dilakukan, kami dapat mengambil beberapa kesimpulan, yaitu :
1.           Pragmatisme berasal dari kata pragma (bahasa Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan. Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis.
2.            Filosuf yang terkenal sebagai tokoh filsafat pragmatisme adalah William James dan John Dewey. Mereka berdualah yang paling bertanggung jawab terhadap generasi Amerika sekarang, karena di Amerika Serikat pragmatisme mendapat tempat tersendiri dengan melekatnya nama William James sebagai tokohnya, disamping John Dewey.
3.           Pandangan pragmatism dalam pendidikan yang meliputi
a.       Hakikat pendidikan
b.      Tujuan pendidikan
c.       Kurikulum dan proses pendidikan

B. Saran
Berdasarkan beberapa pemaparan yang telah penulis sampaikan di atas, diharapkan pembaca dapat lebih memahami tentang filsafat, terutama mengenai aliran pragmatisme. Sehingga, pembaca dapat mengambil hal-hal posotif darinya. Dalam penulisan tugas ini penulis merasa banyak kekurangan baik dari isi tugas ini maupun cara penulisannya. Untuk itu penulis minta ada kritikan dan saran dari para pembaca semuanya.


DAFTAR PUSTAKA
http://kristianawidi.blogspot.com/2012/02/makalah-pragmatisme.html
Burhanuddin Salam, Logika Materil: Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997)
Peter Salim , The Contemporary English-Indonesian Dictionary, (Jakarta: Modern English, 2002)
Ali Maksum dan Luluk Yunan Ruhendi, Paradigma Pendidikan Universal di Era Modern dan Post Modern: Mencari “Visi Baru” atas “Realitas Baru” Pendidikan Kita, (Yogyakarta: Ircisod, 2004)
Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2007)





[1] http://kristianawidi.blogspot.com/2012/02/makalah-pragmatisme.html
[2] Burhanuddin Salam, Logika Materil: Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hlm. 202
[3] Ibid , h.  203
[4] Ibid, h. 204
[5] Peter Salim , The Contemporary English-Indonesian Dictionary, (Jakarta: Modern English, 2002), hlm. 1465.
[6] Ali Maksum dan Luluk Yunan Ruhendi, Paradigma Pendidikan Universal di Era Modern dan Post Modern: Mencari “Visi Baru” atas “Realitas Baru” Pendidikan Kita, (Yogyakarta: Ircisod, 2004), hlm.260

[7] Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2007), hlm.128-129
[8] Ali Maksum dan Luluk Yunan Ruhendi, op.cit.,hlm. 261
[9] Ibid.,hlm. 263.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar